Langsung ke konten utama

TAFAKUR ALAM PRIMAGO ISLAMIC SCHOOL 2019 | CIDAHU CAMPING GROUND SUKABUMI




Tafakur Alam Ajang Refleksi Diri

Jika banyak pencinta alam yang berkata bahwa sebuah perjalananmenyusuri alam, baik itu pegunungan maupun pesisir pantai adalah ajang refleksi diri sendiri, sepertinya ungkapan itu memang benar adanya. Dari alam kita bisa mengetahui siapa diri kita sebenarnya, apakah diri kita ini adalah seorang yang penyabar atau orang yang mudah mengeluh jika di hadapkan dengan kesulitan. Orang yang kuat bertahan di segala medan, atau orang yang mudah menangis hanya karena zona yang tidak nyaman.

Di balik tebalnya kabut, kita bisa menemukan apakah kita adalah seseorang yang akan berisik minta di carikan jalan yang terang, atau kita berusaha sendiri dengan perlahan melangkah sedikit demi sedikit mengikuti kata hati menuju sumber cahaya.

Apakah kita adalah seseorang yang akan berdo’a dan hanya meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa jika sedang dalam kondisi darurat ?, atau malah saling menyalahkan teman karena mengajak kita pada kondisi sulit tersebut.

Kadang kebanyakan dari kita terbuai oleh zona nyaman, terlalu asyik dengan rutinitas yang itu itu saja dan suasana rumah yang serba ada. Sehingga kebanyakan dari kita tidak siap saat di hadapkan dengan keadaan di gunung yang tidak nyaman : udara yang dinginnya kadang menusuk tulang, sering tidak ada air, dan makanan yang ala kadarnya.

Tapi di balik itu semua, bertafakur di alam membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Jadi manusia seutuhnya itu berarti seluruh indera kita bekerja penuh. Kita jadi bisa menikmati segala hal yang ada di depan kita, merekam semua yang ada di dalam benak tanpa hasrat untuk upsate status ke dunia maya. Kita juga berjuang dengan seluruh tenaga sendiri, latihan menguji seberapa kuat diri kita untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Kita bisa menikmati pemandangan alam sepuasnya tanpa harus terjerat oleh rutinitas memandangi social media. Karena jangan harap ada wifi di atas gunung, sinyal saja tidak mau muncul.

Kemegahan gunung akan membuat kita selalu merasa lemah dan kecil, membuat kita menjadi manusia yang rendah hati dan selalu bersyukur.

Kegiatan ini memang melelahkan, tapi dari sebuah perjalanan kita bisa lebih menghargai hidup. Lebih peka terhadap hal-hal sederhana, sebagai contoh kecil kita akan dengan sigap memegangi teman saat mereka hampir jatuh, mengobati lukanya jika kakinya terkena bebatuan, bahkan berbagi air minum yang terbatas.

Yang paling menyenangkan adalah mendapat semangat dari teman yang sudah lebih dulu sampai di atas. Kemudian tibalah giliran kita menyemangati teman yang masih berusaha naik ke tempat tertinggi di mana kita berdiri. Perasaan itu akan membuat kita tau, bahwa diri kita bukanlah siapa-siapa tanpa dukungan orang-orang terdekat kita.

Sesampai di puncak, kita semua berpelukan mensyukuri hasil dari perjuangan. Mempererat persaudaraan di dalam persahabatan. Masing-masing dari kita mengenal dengan baik seperti apa diri kita sebenarnya lewat sebuah pendakian.

Diatas sana kita berdo’a dan menangis dalam hikmatnya muhasabah. Betapa beruntungnya kita yang selama ini selalu hidup dengan begitu nyaman.. Saling berpegangan erat dan berteriak kencang meneriakan bahwa kita pernah ada di atas sini. Tempat yang terasa begitu dekat dengan langit, 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

⛔ MAU masuk GONTOR dan Domisili di JABODETABEK ? ⛔

⛔ MAU masuk GONTOR dan Domisili di JABODETABEK ? ⛔ ⛔   MAU masuk GONTOR dan Domisili di JABODETABEK ?  ⛔ Ikutkan ananda tercinta dalam program  # WorkshopImla ' bersama PR1MAGO dibawah ini....  👇 Silahkan disebarkan flyer ini siapa tau ada saudara atau teman yang butuh informasi ini agar jadi amal jariyah bagi kita semua... Aamiin Allahumma Aamiin...  👍

💓 Workshop Imla dan Pengenalan tentang Pesantren 💓

💓  Workshop Imla dan Pengenalan tentang Pesantren  💓 "Sebelum memasukkan anaknya ke Pesantren, orang tua harus dipesantrenkan dahulu" Kenapa ustad? Kok gitu? Ayah dan bunda, Pondok itu bukan bengkel, bukan tempat modifikasi, tapi tempat kaderisasi, tempat tholabul Ilmi, tempat pembentukan karakter dan mental, tempat pendidikan dan pengajaran nilai-nilai kehidupan, jadi sebelum masukkan sang buah hati ke pondok, ayah dan bunda harus terlebih dahulu memiliki jiwa semangat untuk nyantri juga. Apa harus mondok ustad? Gak mesti mondok ayah dan bunda.. tapi Orang tua harus lebih dahulu paham betul, misi dan visi pondok, kurikulum nya, program pendidikan nya, output lulusannya, jangan sampai salah niat, terus udah masuk menyesal karena tidak sesuai dengan ekspektasi. Makanya... Orang tua harus tahu dan paham betul tentang pesantren yang akan dituju. Hayoo... Yuk Ikuti Program Seminar Online  Primago Bimbel Masuk Gontor , insyaallah akan kita kupas tun...

Teater Islami Primago Islamic School

Teater Islami Primago Islamic School Teater memiliki pengertian secara etimologis yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Sedangkan secara istilah, teater berarti segala adegan yang dipertunjukkan di dalam pentas untuk konsumsi penikmat. Di Indonesia, seni teater sudah banyak berkembang dan menjadi salah satu kesenian yang digemari oleh masyarakat dengan berbagai lapisan usia. Awalnya, teater berasal dari kegiatan yang biasa dilakukan saat upacara agama dan adat tertentu. Beberapa daerah juga menyelanggarakan pertunjukan teater untuk memperingati dan mengenang jasa para pahlawan. Kini teater sudah semakin berkembang dan banyak digunakan sebagai sarana pendidikan yang cukup interaktif dengan visualisasi yang baik dari para pemain teater dalam memainkan sebuah peran serta penyampaian pesan moral di dalamnya. Meski masih banyak masyarakat yang menggemari seni teater namun tidak sedikit juga anak-anak muda yang memilih untuk sibuk bermain dengan gadgetnya dibanding menonton sebuah pe...